Kreatif Di Industri Batik

Industri kreatiffashion terus berkembang sesuai dengan keinginan dan selera pasar. Dibutuhkan kreativitas dan inovasi guna mengeksplor sebuah rancangan hingga dierima pasar. Termasuk ketika merancang sebuah kain batik, menjadi karya ready to wear. Tantangan itulah yang memacu desainer batik asal Solo Neni Livia dalam menghadirkan rancangan yang punya nilai jual tinggi. Maraknya desainer maupun pengusaha batik yang diterima pasar tak menyurutkan semangat Neni Livia untuk berkreasi. Dengan mengusung konsep simpel dan elegan, mayoritas karya selalu terserap dan diterima pasar. Bahkan tak butuh waktu lama, ketika rancangannya diunggah di beberapa sosial media, seketika itu langsung diminati pecinta batik.

Sementara itu, Chandra Ekajaya, pengusaha fashion You And Me menyatakan bahwa semakin hari batik memiliki tingkat kemodernan yang tinggi. Semakin hari pula, fashion asli tanah air semakin dibungkus dengan tampilan yang elegan dan lebih kekinian.

“Banyak elemen yang menjadi kekuatan rancangan saya. Di antaranya garis potongan, bahan baku berupa batik tulis dan motifnya. Konsep yang saya tonjolkan lebih mengarah ke simpel, kasual, dan elegan,” papar Neni yang juga owner dari Batik Dayoni ini.

Sesuai dengan konsep dan prinsip yang dipegang dalam mengeksplor batik, Neni tertantang untuk mengkreasikan beberapa motif batik tulis yang sudah ada dan berkembang. Seperti motif Mega Mendung dan Sogan Pakem seperti Truntum, Parang dan Kawung. Tapi bukan berarti dirinya hanya membatasi sesuatu yang sudah pakem.

Terbukti, pada beberapa rancangannya, Neni berani mengkreasikan batik yang co-lourfull atau kaya warna. Seperti kombinasi wama merah, pink, biru, kuning dan hijau.

“Saya juga tertantang membuat inovasi berupa batik tulis co-lourfull. Hal itu sebagai jawaban untuk mengikuti tren kekinian,” jelas desainer yang mengendors beberapa rancangan batiknya untuk masa karantina Putri Indonesia 2017 perwakilan Jawa Tengah dan DIJ.

Sejak awal terjun di industri fashion, Neni lebih tertarik membuat rancangan ready to wear. Baginya sebuah rancangan tak sekadar mendapat pujian saat ditampilkan dalam fashion show. Tapi juga harus bisa menarik hati konsumen untuk membelinya. Terbukti, ciri khas rancangannya yang menonjolkan garis potongan asimetris dan desain tanpa pola banyak diminati segmen pasar perempuan eksekutif muda hingga dewasa, dengan rentang usia 25 tahun hingga di atas usia 50 tahun.

“Kuncinya saat memunculkan sebuah rancangan batik harus punya prinsip. Seperti fokus yang saya jalani yaitu model ready to wear yang simpel, tapi elegan. Termasuk rancangan motif Mega Mendung yang akan saya tampilkan dalam fashion show char-ity di Solo pada 28 April besok,” terang penyuka batik tulis sogan motif pakem dan tolet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *