Kisah Mualaf yang Mendapatkan Hidayah Allah

Berawal dari perjalanan hidup seorang yang akrab dipanggil Chun-chun dimana dia adalah seorang yang mulanya pemeluk Agama Budha, dia adalah seorang yang sukses dibidang pertanian yang sebelumnya dia pernah bertani di Taiwan dan dia sukses disana, namun kini dia telah menetap di Aceh Jaya dan disana dia juga melanjutkan profesinya sebagai petani di Aceh Jaya bertempatan di Lageun yang luasnya sekitar 30Ha dengan mengandalkan beberapa alat modern pertanian dan ternyata beliau mengatakan bahwa bertani di Aceh itu tak semudah dengan bertani di Taiwan dimana semasa dia di Taiwan itu terlihat mudah bertani yang mungkin karena adanya guru sebagai pemandu tetapi di Aceh sangat banyak masalah yang harus ia hadapi mulai dari burung, tikus, monyet dan lainnya yang membuat ia hampir berputus asa didalam melanjutkan profesinya, dimana dilahan yang luasnya sekitar 30Ha tetapi dia hanya dapat menikmati hasil panen 3 – 4Ton dimana jangankan untuk upahnya para pegawai bahkan untuk kebutuhan pribadinya pun tidak cukup, dan setelah mengalami masalah itu ada yang memberikan sebuah saran untuk penanggulan masalah tersebut yaitu dengan membuat jaring yang bertujuan untuk terhindar dari burung-burung karena burung-burung inilah yang sangat merugikan dia.

Akhirnya tanpa banyak berkomentar beliau pun memutuskan untuk melakukan sebagaimana yang disarankan temannya tadi yaitu membuat jaring ternyata apa yang terjadi setelah beliau berusaha menutup yang kira-kira sekitar 10Ha telah di tutup dengan jaring dimana biayanya hampir mencapai 100jt ternyata tidak membuahkan hasil apapun malahan sangat merugikan beliau karena usaha yang dilakukan sia-sia belaka dimana katanya “ burung-burung begitu pintar, mereka datang berkelompok dimana menaiki jaring dan mengoyang-goyang jaring tersebut hingga burung tersebut bisa menerobos jaring selain itu burung juga masuk melalui celah-celah yang ada, dimana itu sangat menganggu ketentraman hati saya” sehingga setelah kejadian itu, ia betul-betul pasrah.

Di dalam sebuah perjalanan ia ke Banda Aceh dimana ia bertemu dengan seorang teman dimana temannya itu berdialog sebatas sharing bertukar pikiran dengannya, temannya bertanya “Apa Profesi anda sekarang?” ia menjawab “saya tanam padi, tapi tanam padi itu sangat susah” kemudian temannya bertanya kembali “siapa yang tanam itu padi” ia menjawab “ ya saya yang tanam” kemudian temannya mengatakan “Bukan kamu yang tanam, tapi Allah lah yang tanam itu padi, Allah yang menciptakan tanah yang langit di atasnya dimana dari langit turunnya hujan dan dengan air itu Allah suburkan tanaman-tanaman tersebut” dan setelah mendengarkan apa yang di katakan oleh temannya tadi itu sehingga membuat hatinya tersentuh walaupun temannya tadi tidak mengajak ia untuk memeluk Islam.

Seiring berjalannya waktu ia pun sudah mulai memikirkan apa yang pernah ia dengarkan dari temannya tadi pun pada saat itu ia sudah kehabisan cara, modal, dan semangat mulai lah berkata hatinya “Andai Allah itu ada, Apakah musim kedepan ini tanaman saya ini akan selamat dari masalah yang saya hadapi ini? Ternyata Allah menghendaki dimana di musim panen selanjutnya ia mendapatkan hasil yang sangat baik sehingga pada saat itu ia merasa terpanggil untuk memeluk Islam dan akhirnya singkat cerita ia pun memeluk Agama islam tanpa adanya paksaan dan ajakan dari siapapun.

Jadi dibalik kisah yang nyata terjadi diatas dapat kita petik beberapa kesimpulan dimana jika Allah berkehendak maka tiada satupun orang yang mampu dapat mencegah akan terjadinya hal tersebut dimana seorang Chun-chun yang tidak mengerti apapun tentang Islam tapi Allah memberikan ia hidayah dan yang langsung mengarahkannya sehingga ia bisa mengenal dan memeluk Islam tanpa adanya ajakan dan paksaan dari siapapun tetapi ini murni atas keyakinannya maka dari itu sangat di sayangkan kita yang terlahir dalam keadaan islam terseset sehingga menyia-nyiakan Islam agama yang benar ini. Mudah-mudahan kita semua terutama bagi para pembaca mampu menjaga pondasi Islam ini dengan sebaik-baiknya yang akan berurat dan berakar menjadi suatu keyakinan yang mantap didalam kepribadian kita. Wallahu ‘Alam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *